Sumba

Pulau Indah Sumba Yang Belum Banyak Di Ketahui

Berpetualang di Sumba

Sumba merupakan sebuah pulau yang merupakan bagian dari Nusa Tenggara Timur atau NTT yang berukuran lebih besar dari Bali. Sumba memiliki keindahan alam yang sangat bagus dan indah untuk dipandang dan di nikmati.

Sumba

Secara garis besar sumba dibagi menjadi dua bagian yaitu Sumba barat dan Sumba timur. Setiap bagian dari sumba tersebut memiliki keindahan alam tersendiri yang tidak dimiliki oleh bagian Sumba lainya.

Untuk bisa mencapai Sumba khususnya dari Jakarta, anda bisa menaiki pesawat menuju bali yang memakan waktu sekitar 1 jam 45 menit dan melakukan satu kali transit dengan tujuan untuk mengganti pesawat yang lebih kecil agar dapat mendarat di bandara sumba yang tidak dapat menerima pesawat-pesawat berukuran besar. Perjalanan dari Bali menu

Sebelum berangkat ke Sumba ada baiknya anda mencari Guide Lokal yang akan sangat membantu anda nantinya di Sumba. Selain mereka bisa merekomendasikan tempat, mereka juga akan membantu anda untuk berbicara dengan masyarakat lokal yang dimana terdapat beberapa yang cukup rese dan mengganggu anda terlebih di Sumba Barat.

Saya dan teman-teman saya sendiri mempercayakan guide lokal kami kepada Indischeland yang sangat saya rekomendasikan untuk anda gunakan untuk membuat perjalanan anda jauh lebih nyaman. Dana yang saya keluarkan untuk ke Sumba adalah sekitar  Rp 5.000.000 ( bersama dengan ticket pesawat ) namun dikarenakan saya mengganti hotel di Sumba Timur dari Santo Hotel menjadi Pandadita maka cost saya secara langsung pun bertambah dan uang di hotel kedua yang tidak saya gunakanpun di refund.

Hari Pertama Sumba

Memasuki hari pertama, kami berangkat pagi-pagi hari untuk mengejar flight ke Bali. Sesampainya di Bali, kami dikabarkan bahwa pesawat Nam Air kami mengalami delay yang membuat waktu kami di Bali semakin lama dan kami gunakan untuk jalan-jalan dan mencari makan.

Dikarenakan pesawat Nam Air kami yang delay, kami akhirnya sampai di Sumba sore menjelang malam dan mengakitbatkan jadwal kami di hari pertama harus di pindahkan ke hari kedua dan membuat hari kedua menjadi sangat padat dengan enam tempat yang harus kami kunjungi.

Sesampainya di Airport Sumba Barat kami telah di tunggu oleh Guide kami yaitu kak Helmi dan driver kami pak Rais. Mereka langsung mengarahkan kami ke Mobil untuk langsung menuju hotel untuk beristirahat dan menaruh barang-barang kami. Hotel kami yang pertama adalah Hotel Sinar Tambolaka namun karena Full kami pun di pindahkan ke Hotel Sumba Sejahtera yang cukup bagus.

Day Two Sumba

Pagi-pagi hari jam 8 kami sudah siap dan berangkat menuju tempat pertama yaitu Tanjung Radar dan Mbawana Beach. Kedua tempat ini bersebelahan dan tidak jauh antara satu dengan yang lain. Ketika anda berada di Tanjung Radar, anda bisa melihat Mbawana Beach dan begitu pula sebaliknya.

Tanjung Radar

Tanjung Radar

Tanjung Radar

Tanjung Radar

Tanjung Radar, Mbawana Beach Di Belakang

Keindahan alam dan laut Indonesia sangat terlihat dari Tanjung Radar dengan perjalanan yang tidak melelahkan dan landai membuat perjalanan ini sangat dinikmati oleh kami. Setelah beberapa saat disana kami harus bergerak menuju Mbawana Beach.

Mbawana Beach

disini kami mengalami pengalaman tidak mengenakan pertama dimana beberapa dari penduduk lokal yang tidak terpilih untuk membantu kami malah mengganggu waktu indah kami dalam menikmati Mbawana Beach.

Tidak hanya mengganggu pada saat kami sedang berfoto pada akhir kami beranjak dari sana menuju tempat berikutnya orang-orang tersebut menaiki motor mereka dan meneriaki mobil-mobil kami seakan tidak senang. Padahal pemimpin setempatnya sendiri yang memilih orang-orang tersebut untuk membantu kami dan mereka tidak terpilih karena memang sebelumnya sudah mendapatkan giliran sebelumnya.

Perjalan menuju Mbawana Beach dipenuhi dengan jalan terjal dan batu-batu yang cukup licin jadi berhati-hati ya guys namun semuanya akan terbayar dengan keindahan pasir yang lembut dan laut yang indah.

Mbawana Beach

Mbawana Beach

Mbawana Beach

Mbawana Beach

Desa Ratenggaro

Sekelarnya kami dari Mbawana Beach kami kemudian pergi mengunjungi desa setempat yang pertama adalah Desa Ratenggaro salah satu desa wisata di Sumba Barat.

Ratenggaro

Desa Ratenggaro di Belakang

Di luar desa ( di tempat yang kami foto) terdapat beberapa anak kecil yang menjual pernak pernik kalung dan menyewakan jasa naik kuda untuk anda bisa berfoto-foto. Namun hal yang kurang mengenakan terjadi. Para anak-anak kecil ini diajari untuk meminta-minta entah oleh orang tuanya atau ada seseorang yang mengajarkan kepada mereka. Sepanjang perjalanan kami mereka terus meminta uang secara nonstop dan jika anda bilang anda tidak mempunyai uang, mereka menganggap anda berbohong dan akan terus mengganggu anda dengan meminta uang.

Namun anak-anak yang terdapat di dalam Desa Ratenggaro sangat ramah dan tidak pernah sekalipun meminta uang kepada kami. Kami pun membagikan permen kepada mereka dan betapa bahagia mereka mendapatkan hadiah padahal hanya permen saja.

Weekuri Lagoon

Berlanjut dari desa Ratenggaro, kami mengunjungi Weekuri Lagoon untuk berenang dan menyegarkan diri dari panasnya matahari Sumba. Weekuri merupakan salah satu tempat di Sumba Barat yang sangat indah dengan bukit yang mengelilingi kolam alami yang tercipta karena surutnya airnya laut.

Weekuri Lagoon

Weekuri Lagoon

Weekuri Lagoon

Lagi-lagi keindahan alam tersebut rusak dikarenakan anak-anak kecil yang kembali meminta-minta uang kepada kami semua secara nonstop kemanapun kami pergi baik sedang hanya ingin menikmati alam atau ingin mengabadikanya mereka selalu meminta terus dan bahkan beberapa menggangu kami secara langsung.

Baik Guide maupun Driver kami telah menegaskan untuk tidak memberikan sedikitpun uang kepada anak-anak ini dan hanya memberikan mereka Permen jika mereka mau.

Mandorak Beach

Tempat terindah untuk melihat sunset merupakan tujuan terakhir kami yang bernama Mandorak Beach. Sesampainya kami disana, Guide kami telah meyiapkan Kelapa muda yang sangat segar dan enak sebagai teman beristirahat sambil menunggu sunset.

Mandorak Beach

Mandorak Beach

Selagi kami menikmati air kelapa yang sangat sedap yang cukup berbeda dengan kelapa di jakarta kami menyaksikan anak-anak sekitar sedang bermain sepakbola dan terlihat sangat lucu dan seru. Setelah mendekati sunset kami pun segera bergerak menuju tempat tujuan.

Anak-anak tadi yang sedang asyik bermain bola langsung mengikuti kami ke lokasi dan lagi-lagi terjadi permintaan uang. Lebih parahnya anak-anak ini bisa melemparkan pasir ke anda atau bahkan ulat bulu jika anda kekeh tidak memberikanya yang dimana sangat saya sarankan untuk tidak memberikan sama sekali.

Suasana menunggu sunset yang tenang yang kami dambakan menjadi hancur karena anak-anak ini tiada henti mengganggu kami sehingga kami tidak dapat menikmati keindahan alam yang telah di sediakan oleh alam di Sumba.

Kami yang sudah tidak kuat bersama anggota lainya pun memutuskan untuk beranjak dari tempat ini sebelum sunset selesai dikarenakan gangguan dari anak-anak ini yang tidak berhenti satu detikpun.

Hari Ke-Tiga, Perjalanan Menuju Sumba Timur

Dalam perjalanan ke sumba timur, kami kali ini mengunjungi 3 tempat dengan waktu yang tidak terburu-buru. Terlebih lagi di tujuan kami kali ini tidak ada anak-anak kecil yang mengganggu kami sama sekali dan kami dapat menikmati seluruh tempat ini dengan maksimal.

Watubela Beach

Tujuan pertama kami pada hari ketiga kali ini adalah Watubela Beach, sesampainya di Watubela kami langsung menuju tebing yang langsung memberikan ada view laut yang sangat luas. Anda dapat turun ke bawah menuju pantai dengan turunan yang tidak terjal namun agak licin.

watubela Beach

Sayangnya pada saat kami disana laut sedang pasang sehingga ombak sangatlah kencang dan kuat yang membuat kami tidak dapat memasuki sebuah gua kecil dikarenakan gua ini berisikan air yang keluar masuk secara tak terhenti.

Setelah bermain di pantai dan menikmati indahnya laut tanpa gangguan(akhirnya) kami berlanjut ke tempat kedua kami yang cukup jauh yaitu Paijing Village.

Paijing Village

Paijing village berbeda dengan Desa Ratenggaro terletak lebih tinggi di atas bukit yang mengakibatkan iklim atau cuaca di tempat ini tidak lagi panas melaikan adem mendekati dingin dengan pepohonan yang cukup rindang dan tempat yang sangat bagus dan rapih.

Paijing Village

Setelah selesai berfoto-foto dan mengagumi keindahan desa ini kami langsung bergerak mengejar Sunset dari gunung atau bukit yang cukup terkenal karena foto-foto fenomenalnya di Instagram yang bernama bukit Warinding yang merupakan tujuan terakhir kami hari itu.

Bukit Warinding

Seperti namanya Warinding bukit ini benar-benar membuat kita merinding, selain viewnya yang sangat bagus dan hijau angin di tempat ini sangat dingin dan nyaman untuk dinikmati. Sekali lagi tanpa gangguan dalam menikmati keindahan alam kami terasa seperti tersedot di dalam pemandangan luar biasa ini.

Bukit Warinding

Namun sayangnya setibanya kami di Bukit Warinding, kami tidak bisa melihat sunset yang berwarna merah terang dikarenakan tertutup oleh awan yang cukup tebal. Namun hal itu tidak menghilangkan keindahan bukit-bukit di Sumba ini.

Setelah sunset berakhir, kami berhasil memfoto bulan yang sangat besar dan indah bahkan driver kami mengantarkan kami ke sebuah tempat yang sangat bagus dan berutungnya kami mendapatkan sebuah foto yang cukup fantastis.

Photo Bulan Sumba

Kemudian kami di bawa ke tempat dimana produksi kain Sumba di jual. Dengan harga yang cukup fantastis berkisar dari 6 juta rupiah hingga besalan juta kami pun hanya menyewanya satu hari dengan harga yang relatif murah yaitu 100 ribu per kain. Setelah memilih kain kami kemudian menuju tempat makan seafood yang enak meskipun sangatn lama dalam penyajian makanan dan minuman. Setelah menikmati santapan malam kami dan kenyang, kamipun berangkat menuju hotel baru kami yaitu Pandadita untuk beristirahat.

Hari Terakhir di Sumba

Pagi subuh teman-teman saya berangkat menuju bukit Warinding pada pukul 04.00 AM untuk mengejar Sunrise, namun dikarenakan ranjang terlalu empuk dan enak saya pun tidak ikut dan lebih memilih tidur. Pukul 8.00 mereka kembali untuk makan pagi di hotel kemudian dilanjutkan dengan perjalanan kami berikutnya pada hari terakhir.

Beberapa tujuan terakhir kami terpaksa dibatalkan karena ada sebuah musibah alam yang membuat jembatan penghubung di tempat kami rubuh dan tidak bisa dilewati. Guide kami pun segera menggantinya dengan tempat lain yan tidak kalah menarik dan indah dari tempat yang seharusnya kami datangi.

Bukit Persaudaraan

Sesampainya di Bukit Persaudaraan kami ditemani oleh sekelompok kuda dan sapi yang bebas berlarian di sekitar sana. Panasnya terik matahari membuat kami tidak mampu bertahan lama berada di luar. Pemandangan dari bukit persaudaraan sendiri lebih menyajikan bentangan sawah dan bukit sejauh mata memandang.

Bukit Persaudaraan

setelah kami tidak kuat lagi melawan sinar matahari, kami pun bergegas ke mobil dan segera menuju tempat berikutnya dengan pemandangan yang sangat indah.

Tanarara

Tanarara merupakan sebuah destinasi yang terbilang cukup baru dengan keindahan alam hijau. Di Tanarara, kami menikmati makan siang kami di alam tentunya dengan tetap menjaga kebersihan alam tersebut. Makan siang kami pun terasa lebih nikmat ketika kami santap dengan keindahan alam Indonesia dan angin sepoi-sepoi yang dingin.

Tanarara

Kami cukup lama berada di Tanarara dikarenakan guide kami Helmi pergi sebentar untuk menyelesaikan urusanya. Selagi kami menunggu kami berfoto-foto dan tidak bosan-bosanya menikmati indahnya kondisi alam di Sumba. Tanarara sendiri mempunyai dua buah destinasi yang berbeda namun serupa. Kita sebut saja Tanarara 2.0 yang lebih menyajikan lembah-lembah dengan tebing yang cukup terjal. Namun memiliki pemandangan yang tidak jauh berbeda dari Tanarara sebelumnya.

Walakiri Beach

Setelah selesai dan puas memandangi Tanarara kami berangkat menuju tujuan terakhir kami di Sumba yaitu Walakiri. Walakiri merupakan sebuah pantai yang memiliki tanaman seperti mangrove tumbuh di sepanjang pesisir pantai. Ketika kami sampai disana, kondisi laut sangatlah surut dan lagi-lagi kami menikmati pantai sambil menunggu Sunset dengan ditemani Indomie dan Air Kelapa.

Walakiri

Melihat matahari mulai terbenam, kamipun mulai bergera menuju tempat melihat sunset dengan mengarungi pantai yang airnya sedang surut. Terdapat puluhan hingga ratusan Bintang Laut yang berenang mengikuti atau melawan arus air terlihat sangat lucu dan menggemaskan.

Walakiri Beach

*Ps Tidak ada bintang laut yang terluka dalam pengambilan foto ini 🙂

Sembari bermain air laut bersama dengan bintang-bintang laut kami langsung mencari spot terbaik untuk melihat Sunset.

Walakiri Beach Sunset

Penutup

Setelah kami selesai, kami pun segera kembali ke hotel dan beristirahat dan bersiap untuk esok harinya kembali ke Jakarta. Secara keseluruhan perjalanan kami di Sumba sangatlah berkesan. Di samping dari hal meminta-minta uang yang cukup menggangu dan beberapa penduduk lokal di Sumba barat yang kurang ramah, Sumba merupakan sebuah tempat yang Indah dan sangat harus untuk di Kunjungi khususnya bagi anda para pencinta alam. Terima kasih kepada Guide kami Indischeland dan juga Driver kami pak Rais. Tentunya juga untuk teman-teman saya yang telah ready digunakan fotonya dalam pembuatan article ini yaitu Albert, Freda, Poi, dan Connie. Sampai Jumpa di Article Travel Berikutnya!

Leave a Reply